Berita  

Microsoft Prediksi Pertumbuhan Signifikan untuk Bisnis Cloud Azure, Saham Naik 7 Persen

Gedung Microsoft
Gedung Microsoft (Foto: Microsoft News)

PROGRES.ID – Microsoft mengumumkan proyeksi pertumbuhan yang lebih tinggi dari perkiraan untuk layanan cloud Azure pada kuartal berikutnya, setelah mencatat hasil keuangan yang mengesankan pada kuartal sebelumnya. Kabar ini meredakan kekhawatiran investor di tengah ketidakpastian ekonomi global dan mendorong saham Microsoft naik 7 persen dalam perdagangan setelah jam pasar.

Hasil positif Microsoft ini mengikuti tren serupa yang sebelumnya juga dicatatkan Google, dan dinilai dapat menenangkan kekhawatiran soal potensi perlambatan permintaan teknologi AI. Sebelumnya, beberapa analis sempat menyoroti pembatalan sewa pusat data oleh Microsoft sebagai tanda kelebihan kapasitas.

Kekhawatiran investor juga sempat mencuat terkait dampak tarif besar-besaran dari Amerika Serikat, yang diprediksi bisa menghambat pengeluaran perusahaan. Namun, performa penjualan iklan yang kuat dari Meta menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut belum terwujud.

Kenaikan saham Microsoft ini bahkan berpotensi menambah lebih dari 200 miliar dolar AS ke nilai kapitalisasi pasarnya.

Azure Tumbuh Lebih Kuat dari Ekspektasi

Pendapatan divisi cloud Azure tercatat tumbuh sebesar 33 persen pada kuartal ketiga yang berakhir 31 Maret, mengungguli estimasi analis yang memprediksi pertumbuhan 29,7 persen menurut Visible Alpha. Dari pertumbuhan itu, 16 poin persentase disumbang oleh layanan berbasis AI, naik dari 13 poin pada kuartal sebelumnya.

Microsoft juga memproyeksikan pertumbuhan pendapatan layanan cloud antara 34 hingga 35 persen (secara konstan terhadap nilai tukar) untuk kuartal keempat fiskal, atau sekitar 28,75 hingga 29,05 miliar dolar AS—jauh di atas ekspektasi analis.

Pertumbuhan pemesanan komersial (commercial bookings)—yang mencerminkan kontrak infrastruktur dan perangkat lunak baru dari pelanggan bisnis—naik 18 persen pada kuartal ketiga. Lonjakan ini sebagian didorong oleh kontrak Azure baru dengan OpenAI, pencipta ChatGPT. Meski demikian, Microsoft enggan mengungkapkan nilai kontrak tersebut atau sejauh mana kontribusinya terhadap total pendapatan Azure.

Chief Financial Officer Microsoft, Amy Hood, menjelaskan bahwa kontribusi AI terhadap pertumbuhan Azure sesuai ekspektasi perusahaan, namun pencapaian terbesar justru datang dari layanan non-AI.

“Keuntungan utama kami justru berasal dari bisnis non-AI, meski kami juga berhasil mempercepat pengiriman layanan AI ke beberapa pelanggan,” ujar Hood dalam panggilan dengan investor.

Sebelumnya, ekspektasi pasar sempat direvisi turun karena laporan riset yang menyebut Microsoft telah mengakhiri sejumlah sewa pusat data.

Fokus ke Aset Jangka Pendek

CEO Microsoft, Satya Nadella, mengatakan bahwa perusahaannya memang rutin melakukan penyesuaian strategi pusat data. Namun, baru belakangan ini langkah tersebut disorot ketat oleh analis.

“Angka awal cukup skeptis, sehingga memberi ruang bagi Microsoft untuk mencetak kejutan besar,” ujar Dan Morgan, Manajer Portofolio Senior di Synovus Trust. “Tanpa semua isu tarif dan kekhawatiran tersebut, mungkin dampaknya tak sebesar ini.”

Perusahaan berbasis di Redmond, Washington ini mencatatkan laba sebesar 3,46 dolar AS per saham pada kuartal ketiga, melampaui ekspektasi pasar yang sebesar 3,22 dolar AS. Pendapatan total naik 13 persen menjadi 70,1 miliar dolar AS, dengan divisi Intelligent Cloud (termasuk Azure) menyumbang 26,8 miliar dolar AS.

Pengeluaran modal (capital expenditures) Microsoft melonjak 53 persen menjadi 21,4 miliar dolar AS. Namun, proporsi belanja untuk aset jangka panjang menurun, hanya mencakup sekitar setengah dari total belanja tersebut.

Amy Hood menyatakan bahwa pada tahun fiskal 2026—yang dimulai Juli mendatang—belanja modal tetap akan meningkat, namun dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah dan fokus lebih besar pada aset jangka pendek.

Jonathan Neilson, Wakil Presiden Hubungan Investor Microsoft, menjelaskan bahwa pergeseran tersebut mencerminkan perubahan investasi dari pembangunan gedung pusat data ke pembelian chip, seperti CPU dan GPU.

“Begitu chip seperti CPU dan GPU terpasang, kami bisa mulai mengakui pendapatan,” kata Neilson, merujuk pada chip dari Intel, AMD, hingga Nvidia.

Microsoft, yang berkali-kali menyebut sedang mengalami keterbatasan kapasitas AI, kini terus menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun infrastruktur AI dan memperluas jaringan pusat data globalnya.

Apabila belanja AI oleh perusahaan teknologi besar mengalami penurunan, dampaknya bisa signifikan terhadap pemasok seperti Nvidia dan bahkan ekonomi AS secara keseluruhan. Analis J.P. Morgan memperkirakan, belanja pusat data dapat menyumbang 10 hingga 20 basis poin terhadap pertumbuhan ekonomi AS pada 2025 hingga 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *